Waaah … Obat Kuat Makin Laris Saja!


Toko-toko obat dan jamu berjajar di sepanjang Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Tulisan merek obat kuat yang warna-warni, terlihat begitu khas dan mencolok di toko-toko tersebut. Obat perkasa menjadi daya tarik untuk menggaet konsumen.

“Peminat obat kuat di masyarakat kita sangat banyak. Jadi supaya menarik kami pasang merek-merek obat kuat di depan toko. Walaupun di toko kami juga menjual obat-obat untuk mengatasi berbagai penyakit ,” jelas Sudi, penjaga toko obat kuat Kim Seng kepada detikcom, Jumat (12/3/2010).

Karena besarnya permintaan masyarakat terhadap obat kuat, sejumlah pedagang obat akhirnya lebih banyak menyediakan obat kuat dibanding obat-obat jenis lainnya. Sudi kemudian mengambil sejumlah obat kuat yang ada di dalam etalase sambil menjejerkannya. Ada yang berasal dari China, Arab, Afrika, maupun Jerman.

Tapi menurutnya, yang paling laku di pasaran kebanyakan obat kuat yang berasal dari China. Alasannya, obat-obat greng asal negeri Tirai Bambu harganya relatif lebih murah, yakni di bawah Rp 100 ribu untuk satu dosnya.

Sementara obat kuat dari Afrika, seperti ramuan semut Afrika atau obat kuat asal Timur Tengah ari minyak unta dan obat asal Jerman harganya rata-rata di atas Rp 150 ribu. Dari brosur-brosurnya tertulis obat kuat tersebut berfungsi mengobati dan menyembuhkan masalah ereksi yang kurang keras dan menyembuhkan penyakit ejakulasi dini. Semua mengklaim menjadi yang terbaik untuk pria dewasa. Obat-obat tersebut juga dikatakan bisa meningkatkan fungsi seksual, lebih kuat dan tahan lama.

“Kualitas obat-obat tersebut saya kira jauh lebih bagus dari obat kuat asal China. Biar mahal tapi kualitas terjamin. Kalau buatan China kurang joss, Om,” terang Sudi berpromosi.

Selain khasiatnya yang dianggap bagus, jelas Sudi, obat-obat kuat asal Afrika, Arab, dan Jerman tersebut tidak menimbulkan efek samping, misalnya membuat jantung berdebar dan sebagainya. Namun meski demikian Sudi mengaku belum pernah mencoba obat-obat tersebut. Ia tahu khasiat obat tersebut hanya dari pelanggan di tokonya.

Hari Fatma, salah seorang distributor obat saat dihubungi detikcom mengatakan, obat kuat yang dijual pedagang adalah barang impor. Apapaun jenisnya ternyata semua datang dari China. “Semua obat-obat kuat yang beredar di pasaran, baik yang bermerek Afrika, Arab, maupun Jerman semuanya diimpor dari China,” ujar Hari.

Apakah obat-obat kuat tersebut memang mujarab memulihkan kejantanan? Hari lagi-lagi tidak bisa memastikan. Patokannya hanya dari keterangan atau brosur obat-obat tersebut.

Sedangkan pakar seksolog dr Boyke Dian Nugraha saat dimintai komentarnya mengatakan, efek yang ditimbulkan dari obat kuat yang ada di pasaran sifatnya hanya sugestif. Adapun efek medis dari obat tersebut terkait gangguan terhadap ereksi dan impotensi tidak ada.

Soalnya, beber Boyke, obat-obat yang beredar di sejumlah toko obat tersebut
mengandung kafein berdosis tinggi. Akibatnya, bukan penyakit ereksi atau
ejakulasi dini yang akan terobati, melainkan pengguna akan terserang penyakit jantung. Kadar kafein yang tinggi bisa menimbulkan gangguan pembuluh darah yang kemudian mengakibatkan detak jantung yang tidak stabil.

Boyke juga mengingatkan kalau obat-obat kuat yang beredar di pasaran umumnya merupakan oplosan dari bahan kimia dan herbal. Campuran bahan-bahan ini, kata dia, justru bisa menimbulkan persoalan. “Banyak obat viagra dari India dan merek-merek lain yang dicampur dengan bahan-bahan herbal. Nah, obat-obat oplosan itulah yang saat ini banyak dijual di toko-toko obat pinggir jalan,” jelas Boyke.

Namun karena kekurangtahuan masyarakat, terutama kalangan pria, mereka justru termakan dengan iklan-iklan obat kuat yang menjanjikan bisa mengatasi
penyakit-penyakit kejantanan. Kaum pria merasa yakin bisa perkasa dengan
mengkonsumsi obat-obatan itu.

Boyke membeberkan, sebenarnya masalah kejantanan itu berasal dari gangguan hormon serta pembuluh darah. Masalah tersebut bisa diatasi oleh dokter-dokter spesialis di Indonesia. Namun sayang, banyak kaum pria yang merasa malu ke dokter karena takut ketahuan tidak perkasa. Akhirnya mereka berpaling mencari obat kuat untuk mengatasi organ kejantanannya.

Penyakit impotensi atau gangguan ereksi, imbuh Boyke, sebenarnya sama seperti penyakit rheumatik. Hanya saja kalau rheumatik menyerang otot persendian, sementara impotensi atau disfungsi ereksi menyerang otot kelamin pria. “Tapi sayangnya, para pria yang mengalami penyakit tersebut malu berobat dan memilih minum obat di pinggir jalan yang efeknya bisa membahayakan dirinya,” tuturnya.

Untuk mengatasi bahaya obat kuat bagi masyarakat, Boyke kemudian meminta pemerintah harus memberi penjelasan atau edukasi. Sebab, sejauh ini banyak masyarakat yang meregang nyawa karena efek obat kuat.

(ddg/fay) Detkcom


Artikel Terbaru : 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: