PRONOJIWO : TANAMAN PENINGKAT VITALITAS SEXUAL PRIA (3)


PRONOJIWO/PRANAJIWA

Tanaman Perdu dengan buah polong dan biji membuat tumbuhan ini sering disebut Pronojiwo (Sterculia javanica) saja. Tanaman ini dikenal sebagai obat penguat tubuh terutama untuk lemah syahwat. Penelitian di laboratorium yang menguji efek aphrodisiak ekstrak biji pronojiwo manis menunjukkan bahwa tanaman ini dapat memberikan efek aphrodisiak pada hewan uji.

Tanaman obat berpenampilan serba langsing ini dinamakan pranajiwa. Hingga kini, tak ada catatan sejarah yang bisa menjelaskan asal mula nama itu. Yang pasti, khasiat dan “kesaktian” tumbuhan obat multiguna ini sangat populer di kalangan peracik obat-obatan yaitu sebagai pemacu gairah sexual laki-laki.

Pranajiwa adalah tumbuhan perdu tegak dengan tinggi 0,5 m-1,5 m. Sekilas, bentuk daun anggita keluarga Leguminosae ini mirip daun melinjo. Pranajiwa terdapat di Pegunungan Himalaya, Filipina, dan Indonesia. Biasanya, tanaman padat manfaat ini bisa kita jumpai di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.000 m – 2.000 m dpl.

Susunan daun pranajiwa berselang-seling dengan tangkai yang panjang. Setiap tangkai terdiri dari 3-5 anak daun berwarna hijau mengkilat. Panjang daunnya sekira 10 – 15 cm dengan pangkal membulat dan ujung lancip. Sedangkan tangkai bunganya, bersembulan dari ketiak-ketiak daun, tersusun bertandan dalam jumlah banyak. Ukuran bunga-bunga putih ini cukup mungil, sekira 1,25 cm.

Buah pranajiwa yang mirip polong ini, berbentuk lonjong dengan panjang 1-2 cm. Pada waktu muda, polong berwarna cokelat dan berubah hitam keunguan setelah matang. Umumnya, dalam satu polong, terdapat satu biji yang besar. Rasanya? Sangat pahit!

 

Uji Farmakologi Pronojiwo

Telah dilakukan penelitian efek stimulan ekstrak air biji pronojiwo ( Sterculia javanica R. Br.) terhadap susunan syaraf pusat (SSP) pada mencit dan tikus putih. Pada pemberian oral ekstrak air biji pronojiwo dosis 448,22; 672,33 dan 1008,50 mg/kg bobot badan (BB) terlihat efek stimulan. Efek tersebut teramati dari peningkatan aktivitas motorik, rasa ingin tahu, ketangkasan dan nilai ambang kelelahan pada mencit. Peningkatan aktivitas motorik pada tikus terlihat pada pemberian oral ekstrak air biji pronojiwo pada dosis 317,75; 470,63 dan 705,90 mg/kg bobot badan. Dosis terkecil yang memberikan efek stimulan yang bermakna (P=0,05) pada mencit adalah 672,33 mg/kg BB, sedang pada tikus 470,63 mg/kg BB.

Simplisia diekstraksi dengan cara infus.

Sebelum percobaan, hewan dipelihara selama 1 minggu dan diamati tingkah lakunya. Hanya hewan-hewan yang sehat dan naif yang digunakan untuk percobaan. Sebelum dilakukan percobaan, mencit dan tikus dipuasakan selama 16-18 jam, air minum tetap diberikan.

- Uji “Blind Screening”

Tiga puluh ekor mencit dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok kontrol diberi air suling, kelompok uji diberi ekstrak biji pronojiwo dosis 500; 707,11; 994,05; 1401,61; 1976,27 mg/kg bb secara oral. Efek diamati setelah 45 menit pemberian sediaan, meliputi uji panggung, aktivitas motorik, uji refleks, uji katalepsi, uji gelantung, uji Haffner, pengamatan lakrimasi, salivasi, midriasis, jumlah tinja, urinasi, mortilitas selama uji sampai 24 jam.

- Uji “Automatic Hole Board”

Kelompok-kelopmpok mencit diadaptasi dengan kondisi ruangan percobaan 1 jam sebelumnya. Dosis yang digunakan adalah 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb. Diberikan secara oral 45 menit sebelum mencit ditempatkan diatas Hole Board. Kelompok kontrol diberi air suling, dan kelompok pembanding diberi kofein dosis 15,6 mg/kg bb.

Mencit ditempatkan ditengah-tengah board, lalu alat dinyalakan. Percobaan dilakukan siang hari dalam ruang gelap, penerangan lampu 25 VA secara tidak langsung, tanpa pengaruh sinar matahari dan kegaduhan. Pengamatan dilakukan setiap menit selama 5 menit.

- Uji “Tedeschi’s Actograph”

Kelompok-kelompok tikus diadaptasi dengan kondisi ruangan percobaan 1 jam sebelumnya. Dosis yang digunakan adalah 317,75; 470,63 dan 705,9 mg/kg bb. Diberikan secara oral 45 menit sebelum dimasukkan ke dalam kotak Tedeschi’s. Kelompok kontrol diberi air suling, dan kelompok pembanding diberi kofein dosis 10,9 mg/kg bb.

Percobaan dilakukan siang hari dalam ruang gelap, penerangan lampu 25 VA secara tidak langsung, tanpa pengaruh sinar matahari dan kegaduhan. Pengamatan dilakukan setiap 5 menit selama 15 menit.

- Uji “Chimney”

Sebelum percobaan mencit dipuasakan selama 16 jam. Dosis digunakan adalah 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb. Kelompok kontrol diberi air suling, dan kelompok pembanding diberi kofein dosis 15,6 mg/kg bb.

Mencit diletakkan di ujung tabung gelas “Chimney” 45 menit setelah pemberian sediaan. Jika mencit telah mencapai ujung yang lain, posis tabung yang horizontal diubah menjadi vertikal. Mencit akan mencoba memanjat tabung dengan gerakan mundur. Kecepatan gerakan mencit pada kedua posisi tabung diukur.

- Uji ketahanan (uji renang)

Sebelum percobaan mencit dipuasakan selama 16 jam. Dosis digunakan adalah 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb. Diberikan secara oral, kelompok kontrol doberikan air suling, dan kelompok penbanding diberikan Hept amyl dosis 39 mg/kg bb.

Ikatkan pada ekor mencit pemberat 2 gram, masukkan mencit kedalam tempat yang berisi air. Ketahanan berenang diukur dari waktu mencit berenang sampai tenggelam.

Terlihat adanya kenaikan jumlah jengukan dan kenaikan aktivitas mototrik. Efek bertambah dengan meningkatnya dosis.

DE 50 = 672,33 mg/kg bb.

Adanya peningkatan aktivitas motorik dan rasa ingin tahu secara berarti dibandingkan dengan kelompok kontrol (p 0,05) pada pemberian ekstrak dosis 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb.

Tidak ada hubungan antara dosis dengan kenaikan jumlah aktivitas motorik dan rasa ingin tahu.

Adanya kenaikan aktivitas motorik secara bermakana dibandingkan kelompok kontrol (p 0,05) pada pemberian ekstrak dosis 470,63 dan 705,9 mg/kg bb.

Dan terlihat adanya kenaikan aktivitas motorik pada peningkatan dosis.

Ketiga dosis ekstrak pronojiwo menunjukkan kenaikan aktivitas motorik yang berarti (p 0,05).
Tidak ada hubungan antara pertambahan dosis dengan peningkatan ketangkasan.

Adanya peningkatan nilai ambang kelelahan secara bermakna dibanding kelompok kontrol (p 0,05) pada dosis 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb.

Sumber : Sekolah Farmasi ITB http://bahan-alam.fa.itb.ac.id

[BERANDA]<>[JUAL KAPSUL PRONOJIWO]<>[ARTIKEL TERKAIT]


Artikel Terkait :

Artikel Terbaru :

10 Makanan Peningkat Libido
Enam Langkah Menuju Kenikmatan Bercinta
PRONOJIWO : TANAMAN PENINGKAT VITALITAS SEXUAL PRIA (3)

Random Post



About these ads

Satu Tanggapan

  1. Biji Pronojiwo=Pranajiwa=Biji Kepuh….dari Pohon Kepuh tentunya, kalau dari tanaman perdu, saya cari referensinya..kok gak ketemu ??? mohon penjelasannya…Terimakasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: